KEMBALI

Menyenangkan kuliah hari ini tidak seperti kuliah-kuliah sebelumnya. Membayangkan bagaimana dulu di kampus lama dosennya killer, jadi senyum-senyum sendiri. Brakkk..!! Seseorang mengagetkanku dari masa lalu.
“Anak baru, kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya dosen
“Maaf Pak, saya belum bisa menyesuaikan diri,” jawabku
Cowo di sampingku tersenyum, “Gak nyambung,”
“Heh?” cetusku
“Ok, karena anak baru saya maafkan,”
Kelas usai, aku coba bertanya sama cowo yang tadi di sampingku tapi dia keburu keluar. Tiba-tiba..
“Hei, kamu Erin, kan? Aku Sendy,” jelas gadis itu
“Hei, Sen,” kubalas dengan senyuman. “Dosen tadi namanya siapa, ya?”
“Pikiran kamu suka keluyuran, ya? Tadi kan dia udah kenalan, kebetulan dia juga dosen baru. Namanya Rindra,”
“Heh, jadi dia juga baru di sini?” tanyaku terkejut
“He’em, ke kantin, yuk?”
Semua menyanangkan, seperti dunia baru, semua berbeda, orangnya, lingkungannya, suasana hatiku juga ikut senang. Aku punya teman yang periang, yaitu Sendy. Selain periang, dia juga sahaja. Tapi ada satu orang yang masih terasa aneh, berbeda dari lainnya, asing, cuek, yaitu cowo nyindir saat pertama kali aku datang. Susah berteman dengannya, gak semua anak di kampus ini bisa bergaul dengannya.
Hari ini kelas Pak Rindra, kuliah seni. Meski orang baru, Pak Rindra orangnya juga cepat menyesuaikan diri, peduli sama mahasiswanya, sabar, dan yang paling utama dia masih muda. “Kemana Tutur?” tanya Pak Rindra
“Mungkin telat, Pak,” jawab Nino selaku ketua kelas
“Bagaimana, ketua kok telatan. Trus bagaimana nanti pas pentas?”
“Nanti biar saya hubungi, Pak,” lanjut Nino
“Begini saja, biar Erin yang hubungi dia. Kalo dia tidak masuk nanti samperin ke rumahnya,”
Heh? Aku? Apa gak ada yang lainnya?
“Kamu kan penata konsepnya, sekalian kamu rundingin sana Tutur, Rin,” jelas Sendy yang seakan mendengar keluhanku
“He’eh, Sen,”
Minggu aku pergi ke rumah Tutur, cowo yang cuek, aneh, asing, dan sebagainya itu. Tapi melihat rumahnya, semua yang aku pikirkan berbeda. Orang tuanya ramah, asik. Rumahnya juga asri, terpajang foto-foto di dinding, berbanding terbalik dengan sifat Tutur. Aku datang terlalu pagi sehingga seperti mengganggu aktifitas keluarganya. Ayah Tutur suka olah raga pagi, sedangakan ibunya hobi menanam bunga. Tutur sindiri suka bersepeda. Jadi terpaksa aku ikut bersepeda, tidak enak menolak ajakan Ayah Tutur.
“Angin apa yang membawamu kemari?” tanyanya ketus
“Huft, orang ini, kalo bukan karena disuruh Pak Rindra aku gak mau repot-repot kemari,” balasku
“Ok. Aku tau, tapi kamu harus balapan sama aku sampai rumah dulu baru kita bahas pentas seni,”
Aku diam, menatapnya judes. Aku genjot sepeda duluan, dia teriak gak aku gubris. Aku sampai di rumahnya duluan. Aku tagih, “Puas? Cepetan kita bahas, aku gak punya waktu banyak,”
“Sok sibuk. Aku mandi dulu,”
Kedua kalinya duduk di ruang tamu, aku minum jus di meja. Orang tua Tutur pamit untuk pergi mengunjungi nenek Tutur. Aku heran, mereka ramah tapi kok mereka gak tanya di mana rumahku, pindahan dari mana, mungkin Tutur udah cerita.
Seharian aku dan Tutur bahas konsep untuk pentas seni, kelas kami akan menampilkan drama musikal. Akhirnya selesai tugas hari ini, kau merasa cape dan pusing. “Kenapa, Rin?”
“Gak apa-apa kok, cuma kecapean. Aku pulang dulu, ya?”
Tutur mencegahku, “Biar aku antar,”
Aku lihat wajahnya tegang, gelisah. Aku coba tanya “Ada apa? Aku yang sakit kok kamu yang gelisah?”. Tapi dia hanya membalas dengan senyuman, cuek pula.
Dua hari aku gak masuk kuliah, aku dengar suara Pak Rindra di ruang tamu. Aku kira teman-teman datang menjengukku tapi setelah aku buka HP, Sendy sms mendoakan semoga cepat sembuh. Ada apa ini? Kok yang datang cuma Pak Rindra? Apa yang lain dilarang datang? Aku bangun coba lihat ruang tamu, Pak Rindra kelihatan aneh pake baju putih. Setelah aku lihat lekat-lekat, Pak Rindra pake jas dokter. Aku merasa aneh pada diriku sendiri, kepaku tambah sakit. Aku serasa melihat Tutur, Sendy, Nino, tapi waktunya seperti masa lalu. Aku akrab banget sama Tutur, gak kaya sekarang. Tiba-tiba gelap.
Setelah bangun aku sadar apa yang terjadi padaku, aku hilang ingatan. Pak Rindra menyamar jadi dosen supaya bisa mengawasiku karena benturan di kepalaku parah. Sehingga aku merasa seperti di dunia baru. Pak Rindra tersenyum,“Kamu tau? Teman-temanmu rela berbohong demi membantumu supaya tidak merasa aneh, supaya kamu percaya diri, dan tidak putus asa. Apalagi Tutur, dia teman dekatmu, setelah kamu hilang ingatan dia yang paling anti membantumu, untuk pura-pura baru mengenalmu. Dia merasa itu omong kosong, membuatnya bodoh,”
“Iya, aku tau. Aku sadar kenapa dia cuek, bahkan membuat dirinya asing di hadapanku. Mungkin daripada harus berbohong lebih baik kita tidak saling mengenal. Karena aku hilang ingatan membuatnya sakit bahwa aku lupa akan dia,”
Pentas seni berjalan lancar. Aku diam saja di belakang panggung. Tutur duduk di sampingku. “Teman macam apa yang tega membiarkan temannya merasa bodoh?”
Tutur bingung, “Maksunya?”
Aku diam menatapnya tajam, “Apa kamu akan terus membiarkan aku tidak mengenalimu? Sehingga...” belum selesai Tutur memotong
“Maaf, Rin. Aku sadar saat kamu datang ke rumahku minggu lalu. Aku gak tega meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini, kemarin maksudku,”
Aku pukul bahunya, “Orang ini..benar-benar, huft membuatku,”
“Cengeng,” potong Tutur
Kami tertawa bersama. 

Mengenal Teknologi Tepat pada Waktunya

Semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula pola kehidupan manusia. Dari segi ekonomi, politik, budaya, teknologi, dan sebagainya. Namun, yang paling mencolok adalah dari segi teknologi. Mulai dari televisi, radio, telepon, handphone atau telepon genggam, komputer, laptop, dan baru-baru ini muncul iPad. Dari satu merek hingga muncul berbagai merek, di antaranya Apel, Samsung, Polytron, Nokia, Toshiba, dan lain-lain. Dengan berkembangnya teknologi tersebut, dapat memudahkan kita untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi secara up to date. Selain itu, berkembangnya teknologi juga dapat meringankan kita dalam melakukan kegiatan.
Namun, dengan berkembangnya teknologi, berkembang pula dampak negatif yang ditimbulkannya. Zaman sekarang anak usia dini sudah mengenal apa yang namanya HP (handphone). Anak SD sudah mengenal komputer, laptop. Memang menyenangkan melihat anak cepat tanggap bisa mengoperasikan komputer, laptop, menggunakan HP, namun jika tanpa pengawasan anak bisa kebablasan. Misalnya sang anak pandai mengoperasikan komputer, sedangkan dalam komputer terdapat berbagai program, sebut saja program game. Jika tanpa pengawasan orang tua, anak bisa keasikan bermain game dan lupa akan kewajibannya untuk belajar. Apalagi sekarang zamannya facebook dan twitter, banyak anak usia SD sudah dapat menggunakan akun tersebut, setiap hari pergi ke warnet, akhirnya lupa dengan tugasnya. Bukan hanya lupa tanggung jawabnya, sang anak juga melakukan pemborosan.
Untuk mencegah hal tersebut sebaiknya sebagai orang tua dapat menasehati dan mengawasi anaknya dalam mengenal berbagai hal baru. Jangan membiarkan anak bergaul dengan sembarang orang, apalagi yang tingkat umurnya jauh di atasnya karena dapat menyebabkan anak tumbuh sebelum waktunya, mengenal hal-hal yang belum sepantasnya. Ajarkan dan beri perhatian pada anak untuk menggunakan teknologi dengan baik agar berdampak baik pula. Teknologi tidak akan merusak masa belajar anak selama digunakan tepat pada waktunya.

Ini Hanya Sementara

Tidak hanya di timur dan selatan
bahkan barat dan utara sama saja,
Angin berhembus
daun pun berguguran,
Terik menyengat
aliran air pun menipis,
Tanah ikut merekah
meninggalkan kesuburan,
Air langit yang diharapkan
tak kunjung datang,
Pohon-pohon seakan meronta
karena semakin kisut tubuh mereka,
Manusia pun terus berpetualang
mencari sumber kehidupan,
Mereka tetap bertahan meski berat,
Karena mereka tahu
ini hanya ujian sementara,


Terima kasih telah berkunjung di blog saya. Saya tunggu komentarnya :)