Pages
Yanik Septyaningsih
cantik itu jika kita menjadi diri sendiri yang apa adanya
KEMBALI
Menyenangkan kuliah
hari ini tidak seperti kuliah-kuliah sebelumnya. Membayangkan bagaimana dulu di
kampus lama dosennya killer, jadi senyum-senyum sendiri. Brakkk..!! Seseorang
mengagetkanku dari masa lalu.
“Anak baru, kenapa
senyum-senyum sendiri?” tanya dosen
“Maaf Pak, saya belum
bisa menyesuaikan diri,” jawabku
Cowo di sampingku
tersenyum, “Gak nyambung,”
“Heh?” cetusku
“Ok, karena anak baru
saya maafkan,”
Kelas usai, aku coba
bertanya sama cowo yang tadi di sampingku tapi dia keburu keluar. Tiba-tiba..
“Hei, kamu Erin, kan?
Aku Sendy,” jelas gadis itu
“Hei, Sen,” kubalas
dengan senyuman. “Dosen tadi namanya siapa, ya?”
“Pikiran kamu suka
keluyuran, ya? Tadi kan dia udah kenalan, kebetulan dia juga dosen baru.
Namanya Rindra,”
“Heh, jadi dia juga
baru di sini?” tanyaku terkejut
“He’em, ke kantin,
yuk?”
Semua menyanangkan,
seperti dunia baru, semua berbeda, orangnya, lingkungannya, suasana hatiku juga
ikut senang. Aku punya teman yang periang, yaitu Sendy. Selain periang, dia
juga sahaja. Tapi ada satu orang yang masih terasa aneh, berbeda dari lainnya,
asing, cuek, yaitu cowo nyindir saat pertama kali aku datang. Susah berteman
dengannya, gak semua anak di kampus ini bisa bergaul dengannya.
Hari ini kelas Pak
Rindra, kuliah seni. Meski orang baru, Pak Rindra orangnya juga cepat
menyesuaikan diri, peduli sama mahasiswanya, sabar, dan yang paling utama dia
masih muda. “Kemana Tutur?” tanya Pak Rindra
“Mungkin telat, Pak,”
jawab Nino selaku ketua kelas
“Bagaimana, ketua kok
telatan. Trus bagaimana nanti pas pentas?”
“Nanti biar saya
hubungi, Pak,” lanjut Nino
“Begini saja, biar Erin
yang hubungi dia. Kalo dia tidak masuk nanti samperin ke rumahnya,”
Heh? Aku? Apa gak ada
yang lainnya?
“Kamu kan penata
konsepnya, sekalian kamu rundingin sana Tutur, Rin,” jelas Sendy yang seakan
mendengar keluhanku
“He’eh, Sen,”
Minggu aku pergi ke
rumah Tutur, cowo yang cuek, aneh, asing, dan sebagainya itu. Tapi melihat
rumahnya, semua yang aku pikirkan berbeda. Orang tuanya ramah, asik. Rumahnya
juga asri, terpajang foto-foto di dinding, berbanding terbalik dengan sifat
Tutur. Aku datang terlalu pagi sehingga seperti mengganggu aktifitas
keluarganya. Ayah Tutur suka olah raga pagi, sedangakan ibunya hobi menanam
bunga. Tutur sindiri suka bersepeda. Jadi terpaksa aku ikut bersepeda, tidak
enak menolak ajakan Ayah Tutur.
“Angin apa yang
membawamu kemari?” tanyanya ketus
“Huft, orang ini, kalo
bukan karena disuruh Pak Rindra aku gak mau repot-repot kemari,” balasku
“Ok. Aku tau, tapi kamu
harus balapan sama aku sampai rumah dulu baru kita bahas pentas seni,”
Aku diam, menatapnya
judes. Aku genjot sepeda duluan, dia teriak gak aku gubris. Aku sampai di
rumahnya duluan. Aku tagih, “Puas? Cepetan kita bahas, aku gak punya waktu
banyak,”
“Sok sibuk. Aku mandi
dulu,”
Kedua kalinya duduk di
ruang tamu, aku minum jus di meja. Orang tua Tutur pamit untuk pergi
mengunjungi nenek Tutur. Aku heran, mereka ramah tapi kok mereka gak tanya di
mana rumahku, pindahan dari mana, mungkin Tutur udah cerita.
Seharian aku dan Tutur
bahas konsep untuk pentas seni, kelas kami akan menampilkan drama musikal.
Akhirnya selesai tugas hari ini, kau merasa cape dan pusing. “Kenapa, Rin?”
“Gak apa-apa kok, cuma
kecapean. Aku pulang dulu, ya?”
Tutur mencegahku, “Biar
aku antar,”
Aku lihat wajahnya
tegang, gelisah. Aku coba tanya “Ada apa? Aku yang sakit kok kamu yang
gelisah?”. Tapi dia hanya membalas dengan senyuman, cuek pula.
Dua hari aku gak masuk
kuliah, aku dengar suara Pak Rindra di ruang tamu. Aku kira teman-teman datang
menjengukku tapi setelah aku buka HP, Sendy sms mendoakan semoga cepat sembuh.
Ada apa ini? Kok yang datang cuma Pak Rindra? Apa yang lain dilarang datang?
Aku bangun coba lihat ruang tamu, Pak Rindra kelihatan aneh pake baju putih.
Setelah aku lihat lekat-lekat, Pak Rindra pake jas dokter. Aku merasa aneh pada
diriku sendiri, kepaku tambah sakit. Aku serasa melihat Tutur, Sendy, Nino,
tapi waktunya seperti masa lalu. Aku akrab banget sama Tutur, gak kaya
sekarang. Tiba-tiba gelap.
Setelah bangun aku
sadar apa yang terjadi padaku, aku hilang ingatan. Pak Rindra menyamar jadi
dosen supaya bisa mengawasiku karena benturan di kepalaku parah. Sehingga aku
merasa seperti di dunia baru. Pak Rindra tersenyum,“Kamu tau? Teman-temanmu
rela berbohong demi membantumu supaya tidak merasa aneh, supaya kamu percaya
diri, dan tidak putus asa. Apalagi Tutur, dia teman dekatmu, setelah kamu
hilang ingatan dia yang paling anti membantumu, untuk pura-pura baru
mengenalmu. Dia merasa itu omong kosong, membuatnya bodoh,”
“Iya, aku tau. Aku sadar
kenapa dia cuek, bahkan membuat dirinya asing di hadapanku. Mungkin daripada
harus berbohong lebih baik kita tidak saling mengenal. Karena aku hilang
ingatan membuatnya sakit bahwa aku lupa akan dia,”
Pentas seni berjalan
lancar. Aku diam saja di belakang panggung. Tutur duduk di sampingku. “Teman
macam apa yang tega membiarkan temannya merasa bodoh?”
Tutur bingung,
“Maksunya?”
Aku diam menatapnya
tajam, “Apa kamu akan terus membiarkan aku tidak mengenalimu? Sehingga...”
belum selesai Tutur memotong
“Maaf, Rin. Aku sadar
saat kamu datang ke rumahku minggu lalu. Aku gak tega meninggalkan kamu dalam
kondisi seperti ini, kemarin maksudku,”
Aku pukul bahunya,
“Orang ini..benar-benar, huft membuatku,”
“Cengeng,” potong Tutur
Kami tertawa bersama.
Mengenal Teknologi
Tepat pada Waktunya
Semakin berkembangnya
zaman, semakin berkembang pula pola kehidupan manusia. Dari segi ekonomi,
politik, budaya, teknologi, dan sebagainya. Namun, yang paling mencolok adalah
dari segi teknologi. Mulai dari televisi, radio, telepon, handphone atau
telepon genggam, komputer, laptop, dan baru-baru ini muncul iPad. Dari satu
merek hingga muncul berbagai merek, di antaranya Apel, Samsung, Polytron,
Nokia, Toshiba, dan lain-lain. Dengan berkembangnya teknologi tersebut, dapat
memudahkan kita untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi secara up to
date. Selain itu, berkembangnya teknologi juga dapat meringankan kita dalam
melakukan kegiatan.
Namun, dengan
berkembangnya teknologi, berkembang pula dampak negatif yang ditimbulkannya.
Zaman sekarang anak usia dini sudah mengenal apa yang namanya HP (handphone).
Anak SD sudah mengenal komputer, laptop. Memang menyenangkan melihat anak cepat
tanggap bisa mengoperasikan komputer, laptop, menggunakan HP, namun jika tanpa
pengawasan anak bisa kebablasan. Misalnya sang anak pandai mengoperasikan
komputer, sedangkan dalam komputer terdapat berbagai program, sebut saja
program game. Jika tanpa pengawasan orang tua, anak bisa keasikan
bermain game dan lupa akan kewajibannya untuk belajar. Apalagi sekarang
zamannya facebook dan twitter, banyak anak usia SD sudah dapat menggunakan
akun tersebut, setiap hari pergi ke warnet, akhirnya lupa dengan tugasnya.
Bukan hanya lupa tanggung jawabnya, sang anak juga melakukan pemborosan.
Untuk mencegah hal
tersebut sebaiknya sebagai orang tua dapat menasehati dan mengawasi anaknya
dalam mengenal berbagai hal baru. Jangan membiarkan anak bergaul dengan
sembarang orang, apalagi yang tingkat umurnya jauh di atasnya karena dapat
menyebabkan anak tumbuh sebelum waktunya, mengenal hal-hal yang belum
sepantasnya. Ajarkan dan beri perhatian pada anak untuk menggunakan teknologi
dengan baik agar berdampak baik pula. Teknologi tidak akan merusak masa belajar
anak selama digunakan tepat pada waktunya.
Ini Hanya Sementara
Tidak hanya di timur dan selatan
bahkan barat dan utara sama saja,
Angin berhembus
daun pun berguguran,
Terik menyengat
aliran air pun menipis,
Tanah ikut merekah
meninggalkan kesuburan,
Air langit yang diharapkan
tak kunjung datang,
Pohon-pohon seakan meronta
karena semakin kisut tubuh mereka,
Manusia pun terus berpetualang
mencari sumber kehidupan,
Mereka tetap bertahan meski berat,
Karena mereka tahu
ini hanya ujian sementara,
Subscribe to:
Posts (Atom)
Terima kasih telah berkunjung di blog saya. Saya tunggu komentarnya :)
Blog Subscription
Search this blog
Welcome
Selamat datang di blog Yanik. Jangan sungkan untuk membaca, dan masukannya
Blogger templates
Popular Posts
-
Contoh Laporan Foklor Pangeran Sukowati Sejarah Berdirinya Kabupaten Sragen di sini
-
KEMBALI Menyenangkan kuliah hari ini tidak seperti kuliah-kuliah sebelumnya. Membayangkan bagaimana dulu di kampus lama dosennya kille...
-
Ini Hanya Sementara Tidak hanya di timur dan selatan bahkan barat dan utara sama saja, Angin berhembus daun pun berguguran, Te...
-
Mengenal Teknologi Tepat pada Waktunya Semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula pola kehidupan manusia. Dari segi ekonomi,...
Powered by Blogger.
Blogku, goresanku
Goresanku
- Yanik Septyaningsih
- Surakarta, Surakarta, Indonesia
- cantik itu jika kita menjadi diri sendiri yang apa adanya


